
Tasikmalaya Jawabarat Indonesia Andri Online News 27-10-2013-Panasnya terik matahari disore tepatnya jam 13 masi terasa dijalan beraspal kota tasikmalaya disana terlihat sesosok wanita dengan pakian seadanya topi bulat dengan rompi berkaos panjang ditambah sapu lidi ditangan terlihat sedang sibuk menyapu jalan dengan karung di tangan."mungkin orang hampir setiap sore melihat orang ini,di kota tasikmalaya."siapa dia,tidak lain adalah Ibu mariam 37 tahun sebagai pekerja harian penyapu jalan,didinas kebersihan kota tasikmalaya." Dia bekerja sebagai sapu jalan baru berjalan sepuluh bulan,dengan dibayar 29 ribu rupiah setiap hari kerja,dipotong PPN 5% juga ongkos 10 ribu ditambah jajan 5 ribu,inilah yang dirasakan mariam jika dia bekerja,tapi jika tidak bekerja berarti mariam tidak menerima upah.Mariam bekerja sebagai penyapu jalan adalah buat meringankan suaminya yang hanya bekerja sebgai buru bordelan yang upahnya terlalu pas-pasan akhirnya mariam dengan memberanikan diri terjun sebagai pekerja harian menyapu jalan di kota tasikmalay dengan luas arela yang disapu kurang lebih mencapa seribu meter dengan waktu lima jam.Teriknya Panas matahari yang menyengant setiap dia bekerja dijalan adalah bukan halangan,hujan deras yang membasahi jalan juga bukan rintangan tapi semua adalah seperti sudah menjadi teman keseharian Ibu mariam 37 tahun penduduk uruk kecamatan kawalu,dan dia bekerja sebagai tukang sapu jalan oleh sebab harus membiayai anaknya -bambang17 tahun dan Fani 7 tahun masih berusia sekolah,sementara ini bamabang berhenti sekolah dan fani baru sekolah kelas satu dasar.Meskipun setiap pulang kerja Ibu mariam hanya bisa mebawa uang sisah 14 ribu buat dia adalah sebuah kembanggaan oleh sebab dengan uang itu minimal bisa memberikan keringanan buat suaminya,dan dia tidak pernah mau mengeluh apalagi prustasi yang dibenaknya adalah sebuah kebangaan oleh seba sudah bisa mengabdikan dirinya buat keluarga dan kebersiahan kota,yang membuat dia sedih jika sampah dari masyarkat terlalu banyak,berserakan melebihi kemampuan saya,umpanya saya biasa hanya membawa empat karung tiba-tiba menjadi enam karung beras,setidaknya bisa dibayangkan,"tapi semua mau dikata apa,oleh sebab semua itu adlah sebuah kewajiban untuk saya semua harus berjalan cetus mariam." Mendengar semua itu adakah yang tersentuh mendengar keluhnya?."jika anda berteliga mendengar bila bermata melihat dan jika berhati tersentuh.Pengamatan penulis sore itu Ibu mariam begitu giat sedang menyapu jalan dengan karung beras ditangan dijijing,oleh sebab gerobak dorong yang biasa dipakai sedang rusak daripada jalan terlihat kotor biarlah sementara mengunakan karung beras cetusnya.Apa yang dikatakan Mariam benar penulis melihat bahwa dia disebaelahnya terlihat karung beras dengan gundukan sampah yang telah dikumpulkannya,disana terlihat berbagai jenis sampah terlihat ada bungkus rokok,ada bekas bungkus nasi,ada bekas kulit buah dan berbagai samapai lainya,yang jelas segala ada.Pertanyaanya apakah layak jika mariam bekerja begitu keras tapi hanya membawa uang 14 ribu saja? dan mungkikah dijaman seperti ini layak,? dan adakah kesadaran masyarakat bisa membuang sampah tidak disembarang tempat? semua tergantung anda,tetapi disin penulis hanya bisa mencoba mencolek kepada seluruh warga kota untuk bisa menghargai,para tukang sapu jalan dan bisa juga memberikan sebuah penghargaan,artinya meskiun mariam hnayalah tukang sapu tapi dia juga manusia seperti layaknya anda coba saling menghormati danjangan buang sampah seenaknya. Semoga
0 komentar:
Posting Komentar