Darwin, Australia: Kerja sama investasi pengembangan ternak sapi dengan Australia bertujuan mengurangi ketergantungan kepada Negeri Kanguru tersebut. Kerja sama harus adil, berimbang, dan memperkuat kapasitas domestik.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan hal ini pada bagian lain keterangan persnya di Hotel Crowne Plaza, Darwin, Australia, Rabu (4/7) pagi. "Kita bertekad lebih mandiri pada bidang pangan, termasuk untuk daging sapi," kata Presiden.
Dalam soal pemenuhan kebutuhan daging sapi, pemerintah mecanangkan program dual track. "Jalur yang pertama adalah jual beli dan yang kedua adalah investasi bersama untuk meningkatkan kapasitas domestik dari ternak sapi," ujar Presiden SBY.
"Kita harus menuju kemandirian, (kerja sama dengan Australia ini) ingin memperkuat stok sapi di dalam negeri. Ke depan, kerja sama ini harus adil dan berimbang," SBY menegaskan.
Harus diakui kita masih banyak mengimpor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi. Sekitar 43 persen ekspor ternak sapi Australia untuk dunia ditujukan ke Indonesia. Kebutuhan Indonesia sendiri terus meningkat seiring meningkatnya jumlah kelas menengah.
Oleh karena itulah dalam kerja sama dengan Australia ini bersifat investasi bersama dan untuk memperkuat kapasitas domestik. "Tujuannya akan baik bagi perternakan Indonesia karena kita akan mengurangi pembeliannya. Tidak akan tergantung terus-menerus, justru produk ternak sapi domestik yang harus kita tingkatkan," Kepala Negara menjelaskan.
Pengembangan ternak sapi ini akan dipusatkan di NTT dan Papua Barat yang subur untuk pertenakan sapi. Itulah sebabnya dalam kunjungan ke Darwin ini Presiden mengajak gubernur kedua provinsi tersebut.
"Setelah kunjungan, gubernur harus lebih aktif lagi. Yang jelas, Papua Barat dan NTT mestinya siap, tinggal menunggu siapa investornya dari Indonesia dan Australia," kata Presiden. "Saya juga meminta Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian menindaklanjuti sehingga bisa diimplementasikan segera," SBY menandaskan.



0 komentar:
Posting Komentar