Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev telah mengunjungi Kunashiri, salah satu dari 4 pulau yang dikuasai Rusia diklaim oleh Jepang, sebagai bagian dari turnya ke Timur Jauh Rusia.
Medvedev tiba di pulau itu dengan pesawat dari Sakhalin setelah 4 sore pada hari Selasa, didampingi oleh para pejabat termasuk menteri kabinet yang bertanggung jawab atas pengembangan Timur Jauh dan gubernur Sakhalin Provinsi.
Mereka mengunjungi sebuah perusahaan pengolahan laut dan fasilitas di sebuah pelabuhan di Furukamappu, yang Rusia sebut Yuzhno-Kurilsk, di tengah Pulau.
Setelah pemeriksaan lebih-dari-2-jam, Medvedev terbang ke Kamchatka.
Kunjungan ke Kunashiri adalah 2, satu menyusul pada November 2010 ketika ia menjadi presiden. Itu adalah kunjungan pertama oleh seorang kepala negara Rusia ke salah satu pulau. Tidak ada pemimpin Soviet telah mengunjungi wilayah.
Pada bulan Maret, sebelum dia kembali ke kursi kepresidenan pada bulan Mei, Perdana Menteri Vladimir Putin menyatakan keinginannya untuk menyelesaikan masalah teritorial dengan Jepang. Bulan lalu, ia dan Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda juga sepakat untuk mengaktifkan kembali perundingan terhenti teritorial antara 2 negara.
Pemerintah Rusia mengatakan apa yang mereka sebut Kepulauan Kuril menjadi bagian dari Rusia sebagai akibat dari Perang Dunia 2. Pulau-pulau ditangkap oleh pasukan Soviet minggu setelah Jepang menyerah dalam Perang Dunia 2.
Rusia mengakui kepulauan itu sebagai wilayah Jepang di bawah perjanjian 1855. Jepang mengatakan mereka bukan bagian dari Kepulauan Kuril bahwa Jepang meninggalkan bawah Perjanjian San Francisco 1951 Damai. Moskow tidak pernah menandatangani dokumen.
Dalam wawancara dengan media internasional pada tanggal 1 Maret Putin mengakui bahwa tahun 1956 Jepang-Soviet Deklarasi Bersama menyerukan Moskow untuk kembali 2 pulau sekali perjanjian damai ditandatangani. Namun dia mengatakan dokumen tidak menyebutkan tuntutan teritorial lainnya. Putin juga menyatakan keinginan untuk mengakhiri sengketa wilayah dengan cara yang diterima kedua belah pihak.
Deklarasi Tokyo 1993 panggilan untuk 2 sisi untuk menyimpulkan perjanjian perdamaian dengan memecahkan masalah berdasarkan persetujuan di masa lalu dan dokumen serta hukum dan keadilan. Deklarasi tersebut ditandatangani oleh maka menteri Jepang perdana Morihiro Hosokawa dan kemudian Presiden Rusia Boris Yeltsin ketika ia mengunjungi Jepang.



0 komentar:
Posting Komentar