Kran kebesan buat berdidrinya media penerbitan di Indonesia ,telah disambut baik, oleh kalangan masyarakat yang punya

minat untuk menerbitkan Media.Diberbagai daerah pun mulai nampak berdiri berbagai media, dengan ciri dan tampilannya. Melihat segala yang ada dan cirinya didalam penyajian isinya ,semua bisa dikatakan masihlah wajar dan tidak terlalu keluar dari atuaran UUD Pers Maupun kode Etik. “Siapa yang tidak bangga bila mediannya klek dapat menjadi terkenal?” Di -Indonesia Media yang saat ini masih melekat dipembacabya bisa disebut “Kompas,Suara Pembaharuan, HU,Merdeka,Pos Kota, Suara Karya, Sinar Harapan, Sinar Pagi, dan Media Indonesia juga Repoblika. Dan Media yang baru tampil dan usianya terbilang muda “Sindo,?” Media bertarap National ini yang beredarnya di Indonesia,baik Kompas juga Media Indonesia dan Suara Pembagaruan,dan yang alainnya,mungkin boleh dibilang memiliki sitem managemen yang baik sehingga mereka tetap mampuh bertahan dan Exsis,tetapi bagaimana dengan “penerbitan yang berdiri ditingkat lokal?” Dengan diperbolehkannya media menebitkan tidak perlu mengunakan SIUP?Akhirnya banyaklah media yang terbit “timbul tengelam” Pengamatan Penulis ,Ini disebabkan oleh karena para penerbit berangkat dari kalangan tidak terdidik didalam dunia bisnis Industri medi cetak. Dan akhirnya ketika dia mencoba terjun didunia itu tidak sedikit pulah yang hancur,bahkan akhirnya tidak sedikit pulah yang bangkrut. Sejauh ini penulis melihat Industri Media masa, yang berada di tingkat lokal hampir terbilang terbitnya jatuh bangun, oleh sebab mungkin penanangananya kurang proposional atau oleh sebab modal,bisa pulah karana kurangnyaba pa angkat yang mau menopang media lokal tersebut? Menuurt data sementara jumlah media terbitan lokal yang tersebar di indonesia sudah mencapai enam ribu (6000) penerbitan dan yang masih Exsisi terbit mungkin hanya tinggal 30% saja pengamatan penulis “Seandainya Media lokal ini diperdayakan dan potensialnya di topang oleh sesuatu kekuatan dari pemiliki modal stidaknya dapat menjadi sesuatu kekuatan kemajuan didalam mencerdaskan bangsa-dankemajuan Negara” Namun sayang semua itu hampir terlupakan?” “Mungkin semua orang terlalu sibuk dengan BBM.Akhirnya Potensial Bangsa yang bergerak dibidang Industri Media- hampir terlupakan.?” “Pepatah mengatakan Pers adalah ujung tombak bagian dari Negara” ? Pertanyaannya apakah mungkin jika Perusahaannya hancur Pers bisa menjadi bagian ujung tombak Negra? jawabnya tidak. Melihat semua ini penulis mengugah kepada semua kalangan yang ada dimanapun berada, untuk dapat melihat dan menoleh kedapur Indutri penerbitan lokal.”Kesibukan yang dihadapi jangan hanya melulu BBM ?Akhirnya hampir terlupakan Industri Penerbitan? Harapan Penulis semoga DPR-RI dan Perbankan Juga mentri Koordinator Ekonomi mau juga membantu memikirkan kondisi Industri Penerbitan yang “hampir terlupkan” Semoga. (oleh andri luntungan)

minat untuk menerbitkan Media.Diberbagai daerah pun mulai nampak berdiri berbagai media, dengan ciri dan tampilannya. Melihat segala yang ada dan cirinya didalam penyajian isinya ,semua bisa dikatakan masihlah wajar dan tidak terlalu keluar dari atuaran UUD Pers Maupun kode Etik. “Siapa yang tidak bangga bila mediannya klek dapat menjadi terkenal?” Di -Indonesia Media yang saat ini masih melekat dipembacabya bisa disebut “Kompas,Suara Pembaharuan, HU,Merdeka,Pos Kota, Suara Karya, Sinar Harapan, Sinar Pagi, dan Media Indonesia juga Repoblika. Dan Media yang baru tampil dan usianya terbilang muda “Sindo,?” Media bertarap National ini yang beredarnya di Indonesia,baik Kompas juga Media Indonesia dan Suara Pembagaruan,dan yang alainnya,mungkin boleh dibilang memiliki sitem managemen yang baik sehingga mereka tetap mampuh bertahan dan Exsis,tetapi bagaimana dengan “penerbitan yang berdiri ditingkat lokal?” Dengan diperbolehkannya media menebitkan tidak perlu mengunakan SIUP?Akhirnya banyaklah media yang terbit “timbul tengelam” Pengamatan Penulis ,Ini disebabkan oleh karena para penerbit berangkat dari kalangan tidak terdidik didalam dunia bisnis Industri medi cetak. Dan akhirnya ketika dia mencoba terjun didunia itu tidak sedikit pulah yang hancur,bahkan akhirnya tidak sedikit pulah yang bangkrut. Sejauh ini penulis melihat Industri Media masa, yang berada di tingkat lokal hampir terbilang terbitnya jatuh bangun, oleh sebab mungkin penanangananya kurang proposional atau oleh sebab modal,bisa pulah karana kurangnyaba pa angkat yang mau menopang media lokal tersebut? Menuurt data sementara jumlah media terbitan lokal yang tersebar di indonesia sudah mencapai enam ribu (6000) penerbitan dan yang masih Exsisi terbit mungkin hanya tinggal 30% saja pengamatan penulis “Seandainya Media lokal ini diperdayakan dan potensialnya di topang oleh sesuatu kekuatan dari pemiliki modal stidaknya dapat menjadi sesuatu kekuatan kemajuan didalam mencerdaskan bangsa-dankemajuan Negara” Namun sayang semua itu hampir terlupakan?” “Mungkin semua orang terlalu sibuk dengan BBM.Akhirnya Potensial Bangsa yang bergerak dibidang Industri Media- hampir terlupakan.?” “Pepatah mengatakan Pers adalah ujung tombak bagian dari Negara” ? Pertanyaannya apakah mungkin jika Perusahaannya hancur Pers bisa menjadi bagian ujung tombak Negra? jawabnya tidak. Melihat semua ini penulis mengugah kepada semua kalangan yang ada dimanapun berada, untuk dapat melihat dan menoleh kedapur Indutri penerbitan lokal.”Kesibukan yang dihadapi jangan hanya melulu BBM ?Akhirnya hampir terlupakan Industri Penerbitan? Harapan Penulis semoga DPR-RI dan Perbankan Juga mentri Koordinator Ekonomi mau juga membantu memikirkan kondisi Industri Penerbitan yang “hampir terlupkan” Semoga. (oleh andri luntungan)


0 komentar:
Posting Komentar