Wladiwostok, Rusia: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali mengajak masyarakat Indonesia meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian untuk menekan aksi terorisme. Ajakan tersebut disampaikan SBY pada keterangan pers, Minggu (9/9) pukul 17.45 waktu setempat, atau 13.35 WIB, di Briefing Room, International Media Centre, FEFU, Pulau Rusky, Wladiwostok, menjawab pertanyaan wartawan mengenai peristiwa ledakan bom di Depok, Jawa Barat, Sabtu (8/9) malam.
Menurut Kepala Negara, pendekatan strategi dan kebijakan yang kita pilih harus terus dijalankan. "Kebijakan pertama, mencegah terjadinya aksi-aksi terorisme, mencegah berkembangnya pikiran-pikiran ekstrim yang akhirnya diwujudkan dalam aksi-aksi kekerasan," kata SBY.
Menurutnya, tindakan pencegahan, penangkalan, persuasi, pendidikan, dan pembimbingan ini harus dilakukan secara total di Indonesia.
"Saya sudah seringkali meminta pemuka agama dan tokoh masyarakat untuk dengan gamblang, dengan jelas, tanpa takut, tanpa malu-malu, dan tanpa sembunyi-sembunyi mengatakan bahwa aksi terorisme itu tidak dibenarkan oleh ajaran agama manapun, oleh negara manapun, oleh bangsa manapun," ujar SBY.
Kebijakan kedua yaitu tindakan prevensi, lanjut Presiden SBY, juga harus dilakukan secara konkret dan riil di lapangan. "Ini bukan hanya tugas Kepolisian, bukan hanya tugas lembaga intelijen, bukan hanya tugas komando teritorial, tapi tugas semua," Presiden menegaskan.
Presiden SBY meminta masyarakat Indonesia untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar atau neighborhood watch. "Contohnya, kalau memang rakyat kita di seluruh tanah air ini waspada, memiliki sensitifitas, bekerja sama yang baik, maka mudah dikenali kalau ada sesuatu yang aneh dan ganjil," SBY mengingatkan.
Presiden SBY sendiri mengakui pihak kepolisian selama ini sudah banyak mencegah dan menggagalkan terjadinya aksi terorisme, dan hal tersebut harus terus dilakukan dengan baik.
Menurut Kepala Negara, pendekatan strategi dan kebijakan yang kita pilih harus terus dijalankan. "Kebijakan pertama, mencegah terjadinya aksi-aksi terorisme, mencegah berkembangnya pikiran-pikiran ekstrim yang akhirnya diwujudkan dalam aksi-aksi kekerasan," kata SBY.
Menurutnya, tindakan pencegahan, penangkalan, persuasi, pendidikan, dan pembimbingan ini harus dilakukan secara total di Indonesia.
"Saya sudah seringkali meminta pemuka agama dan tokoh masyarakat untuk dengan gamblang, dengan jelas, tanpa takut, tanpa malu-malu, dan tanpa sembunyi-sembunyi mengatakan bahwa aksi terorisme itu tidak dibenarkan oleh ajaran agama manapun, oleh negara manapun, oleh bangsa manapun," ujar SBY.
Kebijakan kedua yaitu tindakan prevensi, lanjut Presiden SBY, juga harus dilakukan secara konkret dan riil di lapangan. "Ini bukan hanya tugas Kepolisian, bukan hanya tugas lembaga intelijen, bukan hanya tugas komando teritorial, tapi tugas semua," Presiden menegaskan.
Presiden SBY meminta masyarakat Indonesia untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar atau neighborhood watch. "Contohnya, kalau memang rakyat kita di seluruh tanah air ini waspada, memiliki sensitifitas, bekerja sama yang baik, maka mudah dikenali kalau ada sesuatu yang aneh dan ganjil," SBY mengingatkan.
Presiden SBY sendiri mengakui pihak kepolisian selama ini sudah banyak mencegah dan menggagalkan terjadinya aksi terorisme, dan hal tersebut harus terus dilakukan dengan baik.


0 komentar:
Posting Komentar