Darwin, Australia: Indonesia ingin menjadi salah satu dari 10 besar mitra dagang Australia. Hal tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam jamuan santap malam yang diselenggarakan oleh PM Australian Julia Gillard dan pendampingnya Tim Mathieson untuk menghormati kedatangan pemimpin sebuah negara di Gedung Parlemen Tetitori Bagian Utara Australia, Senin (2/7) malam.
Hal tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan, mengingat cukup tingginya tingkat komplementer kedua negara. Disamping itu, SBY juga berharap adanya peningkatan kerja sama berkelanjutan di bidang investasi, pertahanan, pendidikan, dan kesehatan.
Di bidang investasi, Kepala Negara ingin mengundang lebih banyak investor Australia ke Indonesia. Kedepan, SBY yakin Australia akan menjadi salah saru investor utama di Indonesia. Untuk program MP3EI, SBY mengajak Australia berpartispasi sebagai mitra utama, bukan hanya di koridor 5 yaitu Bali, NTB, dan NTT, tetapi juga koridor 6 yang meliputi Maluku dan Papua. "Melalui Investasi dalam program MP3EI, utamanya di sektor infrastuktur akan semakin terbangun konektivitas antar kawasan tersebut dengan teritori kawasan utara Australia, hal ini sejalan dengan prakarasa Indonesia-Australia development area" kata Presiden SBY.
Kerja sama di bidang pertahanan juga mencatat peningkatan penting. "Intensitas saling kunjung antar pejabat tinggi kedua negara, pelatihan bersama, program kunjungan serta dialog antar angkatan bersenjata terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan kerja sama antara kepolisian kedua negara juga sangat intensif dan menjadi contoh model kerja sama yang sangat sukses dikawasan. Saya juga menyambut dengan suka cita penyerahan resmi hibah pesawat angkut C 130 H dari pemerintah Australia kepada pemerintah Indonesia yang dilaksanakan tadi pagi," Presiden SBY menerangkan.
"Hibah empat pesawat angkut itu akan membantu meningkatkan kapasitas TNI utamanya dalam melaksanakan bantuan kemanusiaan dan tanggap darurat menghadapi bencana alam. Selain itu penghibahan pesawat angkut yang handal itu dapat dimanfaatkan dalam kerja sama regional tanggap darurat menghadapi bencana, sebagaimana disepakati dalam Indonesia-Australia Joint Paper pada East Asia Summit tahun lalu," Kepala Negara menambahkan.
Untuk itulah, SBY ingin terus mendorong agar Indonesia-Australia terus meningkatkan kerja sama dan penggulangan bencana alam. Persepsi masyarakat Indonesia terhadap Australia juga terus mengarah postif, sebagai contoh survey Universitas Islam Negeri Jakarta pada tahun 2011, Negeri Kangguru menjadi negara kedua yang paling diminati untuk studi setelah Arab Saudi. Diharapkan dengan jalinan yang lebih erat antara komunitas pendidikan tinggi akan berbuah pada pemahaman yang kuat dan utuh atas masing-masing bangsa disamping kerja sama di bidang keilmuan.
Kerja sama di sektor kesehatan akan semakin mempertautkan kedua bangsa atas isu-isu yang menyangkut kemanusiaan. "Saya bergembira, telah berkesempatan meninjau NCCTRC di Rumah Sakit Royal Darwin tadi sore, dan dapat menyaksikan langsung bentuk-bentuk kerja sama kongkrit di sektor ini," terang Kepala Negara.
Besok, Presiden bersama delegasi Indonesia akan melakukan pertemuan dengan PM Australia. Pertemuan besok akan menjadi yang keempat sejak Julia Gillard menjabat sebagai PM. "Saya berharap pertemuan kali ini akan semakin memperkuat fondasi hubungan bilateral yang telah dibangun sebelumnya. Dengan fondasi hubungan bilateral serta hubungan yang semakin erat kita dapat meningkatkan kerja sama di berbagai bidang, seraya mencari dan menciptakan peluang-peluang baru termasuk kerja sama dalam mengatasi persoalan regional dan global," Presiden SBY menandaskan.



0 komentar:
Posting Komentar