Sebuah konferensi internasional mengenai krisis Suriah telah setuju untuk menyerukan transisi ke pemerintahan demokratis, tetapi negara peserta gagal untuk melihat mata ke mata pada masa depan Presiden Bashar al-Assad.
Pertemuan di Jenewa pada Sabtu itu ditengahi oleh utusan PBB Kofi Annan dan dihadiri oleh menteri luar negeri dari 5 Keamanan PBB anggota tetap Dewan dan negara-negara Liga Arab.
Sebuah pernyataan yang dikeluarkan setelah pertemuan itu mengatakan rakyat Suriah minta negara demokrasi sejati dan mengusulkan rencana untuk membentuk pemerintahan transisi yang meliputi anggota baik dari pemerintah Assad dan oposisi.
Annan menyambut perjanjian. Dia mengatakan kepada wartawan peserta konferensi akan bekerja untuk mempengaruhi kedua belah pihak di Suriah untuk menghentikan kekerasan.
Kekuatan Barat, dan Rusia berada berselisih mengenai masa depan presiden Suriah. Menlu AS Hillary Clinton menekankan bahwa Assad harus tahu waktunya di kekuasaan akan berakhir segera.
Namun, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menekankan bahwa rencana transisi tidak menetapkan pemecatan Assad. Rusia telah menjadi pendukung kuat dari rezim Assad.



0 komentar:
Posting Komentar