Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan hal ini dalam pidatonya pada diskusi panel 'Moving Towards Sustainability: Together We Must Create The Future We Want' di Riocenter, Rio de Janeiro, Brasil, Rabu (20/6) malam waktu setempat atau Kamis (21/6) pagi di Indonesia. Diksui panel ini merupakan kegiatan sisipan pada KTT Rio+20.
“Dalam beberapa hal, kita telah menjadi korban dari kesuksesan kita sendiri. Tapi sekarang kita menyadari bahwa kita perlu mendefinisikan kembali modernitas, pembangunan dan kesejahteraan, dan menjauh dari konsumerisme yang berlebihan,” kata Presiden SBY.
“Kita harus bergerak dari ekonomi keserakahan menuju ekonomi hijau. Ini adalah sesuatu yang perlu dipelihara di rumah kita, di sekolah kita, dan di tempat kerja kita. Jika hanya warga negara dunia berjanji untuk gaya hidup demikian, maka keberlanjutan tidak akan lagi menjadi visi tetapi kenyataan,” SBY menegaskan.
Presiden mengingatkan bahwa saat ini dunia mengalami masa kritis menjelang berakhirnya Tujuan Pembangunan Milenium atau MDGs pada 2015 dan Protokol Kyoto. Sangat penting bagi kita mempertahankan kelangsungan visi global untuk memastikan masa depan yang berkelanjutan.
Di berbagai kawasan, dunia mengalami situasi yang sulit. Misalnya, masih belum jelasnya penanganan krisis di Zona Euro. “Tantangan kita adalah bagaimana memastikan masalah ekonomi dunia yang tidak mengurangi atau mengalihkan perhatian kita dari tujuan keberlanjutan dan tujuan perubahan iklim. Penting bagi kita untuk menjaga fokus pada komitmen nasional dan tanggung jawab global,” Presiden menjelaskan.
Untuk mengamankan masa depan iklim, juga penting bagi kita untuk menekankan tanggung jawab bersama, sesuai kemampuan masing-masing. Negara maju harus memimpin, tapi negara berkembang juga harus berbuat lebih banyak. Meskipun ada target global untuk menjaga emisi karbon di bawah 2 derajat Celcius, tapi itu belum cukup.
“Semua orang harus terlibat dalam rencana aksi tersebut. Ini mengapa Indonesia, tanpa menunggu kesepakatan global, di tengah-tengah kebuntuan pada tahun 2009 membuat keputusan suka rela untuk mengurangi emisi sebesar 26 persen pada tahun 2020, atau 41 persen dengan dukungan internasional. Tidak ada terobosan tanpa berpikir outset the box,” SBY mengingatkan.
Kepala Negara juga mengingatkan perlunya kolaborasi yang lebih besar, bukan konfrontasi. “Tentu saja argumen yang baik selalu diperlukan untuk memajukan masalah, tapi pada akhirnya kita semua harus bekerja sama. Kita semua memiliki tujuan yang sama. Di Indonesia, kami selalu bersedia untuk bermitra dengan semua stakeholder berdasarkan kepentingan bersama, baik dengan LSM, masyarakat sipil, kelompok kepentingan, bisnis, media, maupun akademisi,” ujar SBY.
“Kami tidak berpura-pura mengetahui semua jawaban. Melibatkan diri dan mendengarkan biasanya akan menuntun kita pada solusi yang lebih baik. Pendkatan yang terlalu pendekatan konfrontatif hanya akan menjadi kontraproduktif dan memperlebar kesenjangan,” Presiden menambahkan.
Menurut Presiden, diperlukan pendekatan yang lebih pragmatis. Indonesia sendiri telah mempromosikan kehutanan yang berkelanjutan sebagai bagian penting dari pembangunan berkelanjutan. Pada tahun 2010, Indonesia menandatangani letter of intent dengan pemerintah Norwegia untuk Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD +). Pada Mei tahun lalu, Indonesia menerapkan moratorium ijin pengusahaan hutan baru untuk eksploitasi hutan primer dan lahan gambut. Juga meluncurkan kampanye nasional untuk menanam pohon, yang dalam 2 tahun terakhir telah menghasilkan 3,2 miliar pohon ditanam.
“Kami juga mengharapkan dunia untuk mendukung upaya kami ketimbang beretorika dan menuding. Dalam jangka panjang, keberlanjutan akan tercapai karena lebih bernilai ekonomis untuk menjaga pohon tumbuh daripada ditebang,” Presiden SBY menandaskan.


0 komentar:
Posting Komentar