"Saya selaku Presiden dan pribadi menyampaikan belasungkawa terhadap korban jatuhnya pesawat TNI-AU F-27. Diantara korban meninggal, ada penerbang handal TNI-AU," kata Presiden SBY pada bagian lain keterangan persnya di Hotel Copacabana Palace, Rio de Janeiro, Brasil, Jumat (22/6) pagi waktu setempat.
Presiden SBY sudah melakukan kontak telepon dengan Menko Polhukam Djoko Suyanto ihwal jatuhnya dan penanganan insiden tersebut. Menurut laporan Menko Polhukam, ujar Presiden, pesawat nahas tersebut mengalami kerusakan mesin atau mekanikal. Pilot berusaha mendaratkan di daerah persawahan yang tidak ada penduduk, namun gagal dan akhirnya jatuh di kompleks perumahan dinas TNI-AU.
Saat ini tengah dilakukan penyelidikan terhadap sebab jatuhnya F-27 tersebut. Oleh karena itu, Presiden meminta sementara ini pesawat F-27 lainnya tidak diterbangkan dulu. "Jangan terbangkan dulu F-27. Kita sedangkan lakukan modernisasi dengan mendatangkan pesawat N295 dan membeli dari negara lain pesawat C130," SBY menegaskan.
Soal permintaan untuk tidak menerbangkan F-27 tersebut, Presiden menambahkan, memang domain profesional TNI-AU, dan bukan domain politik. "Tapi saya sebagai Kepala Negara berharap untuk kita tidak menerbangkan dulu F-27," ujar Presiden SBY.
Sebagaimana diberitakan, pesawat jenis Fokker 27 milik TNI-AU jatuh di daerah perumahan Komplek Rajawali, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (21/6) sekitar pukul 14.44 WIB. Akibat peristiwa ini, sembilan orang meninggal, tiga diantaranya adalah warga yang tertimpa pesawat.
Selain soal jatuhnya F-27, Presiden SBY juga menerima laporan soal tenggelamnya sebuah kapal di kawasan Pulau Christmas, antara Indonesia dan Australia. "Menurut Menko Polhukam tadi pagi, jaraknya sementara lebih dekat ke Australia meskipun kita juga sudah melakukan aksi penyelamatan," kata Presiden.
Presiden SBY juga sudah berbicara dengan PM Australia Julia Gillard mengenai hal ini. Antara Indonesia dan Australia memiliki kerangka kerja sama 'Bali Process' untuk menangani hal-hal seperti itu, salah satunya untuk menangani aliran imigran gelap ke Australia yang melewati perairan Indonesia. Diduga kapal yang tenggelam tersebut memuat imigran gelap.


0 komentar:
Posting Komentar