Istana Kepresidenan Cipanas bermula dari sebuah bangunan yang didirikan pada tahun 1740 oleh pemilik pribadinya yang merupakan seorang tuan tanah Belanda, Van Heots. Istana ini terletak di antara jalur jalan raya Jakarta dan Bandung arah Puncak. Sekitar 103 kilometer dari Jakarta atau 20 kilometer dari kabupaten Cianjur, tepatnya di desa Cipanas kecamatan Pacet, kabupaten Cianjur, di kaki Gunung Gede, Jawa Barat, pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Namun, pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, tepatnya mulai pemerintahan Gubernur Jenderal G. W. Baron van Imhoff pada tahun 1743, bangunan yang berdiri di atas lahan sekitar 26 hektar dengan luas bagunan sekitar 7.760 meter persegi tersebut sempat dijadikan tempat peristirahatan para gubernur jenderal Belanda.
Udara di Istana Cipanas ini bersih, sejuk, dan segar, serta pemandangan yang cukup indah. Halamannya terbagi dalam dua areal, yakni areal taman istana dan areal hutan istana. Selepas mata memandang, halaman istana laksana hamparan beledru hijau bertabur aneka bebungaan asri. Itulah alasan mengapa bangunan ini difungsikan sebagai tempat peristirahatan dan persinggahan, selain sumber air panasnya yang mengandung belerang dan bersuhu 43 derajat celcius yang cukup terkenal.
Tidak ubahnya seperti Istana Kepresidenan lainnya, istana ini juga memiliki gedung utama yaitu Gedung Induk dan beberapa paviliun. Gedung Induk merupakan gedung yang terbesar diantara bangunan-bangunan lain yang ada di kompleks Istana Cipanas. Gedung Induk biasanya digunakan sebagai tempat peristirahatan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya.
Sesuai dengan fungsi istana yaitu sebagai tempat peristirahatan, baik Gedung Induk ataupun paviliun masing-masing memiliki ruang tamu, ruang tidur, ruang rias, dan ruang makan. Namun, tentu saja ukuran setiap ruangan di paviliun lebih kecil dari yang dimiliki Gedung Induk. Di Istana Cipanas ini, terdapat enam buah paviliun, salah satunya adalah Paviliun Yudistira.
Paviliun Yudistira merupakan salah satu dari 3 paviliun yang lebih dulu berdiri di kompleks Istana. Paviliun Yudistira bersama dengan Paviliun Bima dan Arjuna, didirikan sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda pada tahun 1916. Letaknya tidak terlalu jauh dari Gedung Induk. Sementara paviliun yang lainnya yaitu Paviliun Nakula dan Paviliun Sadewa didirikan pada tahun 1983 pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Dan Paviliun Abimanyu sebagai paviliun terakhir didirikan pada tahun 2003 pada masa pemerintahan Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri.
Jika Gedung Induk biasanya digunakan untuk tempat peristirahatan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarga, maka paviliun biasanya digunakan sebagai tempat peristirahatan para tamu ataupun menteri-menteri apabila ada kegiatan yang diselenggarakan di Istana Cipanas.
Selain sebagai salah satu paviliun yang pertama kali dibangun di kompleks Istana Cipanas, Paviliun Yudistira juga memiliki keistimewaan lain. Dari keenam paviliun yang ada di kompleks Istana Cipanas, Paviliun Yudistira dipilih sebagai tempat dilangsungkannya akad nikah putra bungsu Presiden SBY dan Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono dengan putri kedua Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Siti Rubi Aliya Rajasa pada 24 November 2011 lalu. Paviliun Yudistira ini diumpamakan sebagai “rumah” keluarga pengantin wanita. (yun dan Andri Luntungan)
Foto: Ruang Yudistira yang digunakan sebagai tempat akad nikah putra Presiden SBY dan Ibu Ani, Edhie Baskoro di Istana Cipanas, Kamis (24/11) pagi. (foto: abror/presidensby.info)


0 komentar:
Posting Komentar