Palopo, Sulawesi Selatan: Kearifan lokal harus terus dijaga,
karena di dalamnya mengandung nilai-nilai universal. Misalnya, sikap
saling menghormati, menghargai, dan saling mengingatkan. Seperti
kearifan lokal komunitas Luwu, Sulawesi Selatan, yang dikenal oleh
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Kalau itu dijunjung tinggi, insya Allah, (Palopo) akan tetap menjadi
wilayah yang tenteram, aman, dan damai. Kekerasan yang pernah terjadi
berarti mengingkari nilai-nilai yang dijunjung bersama," ujar Presiden
SBY dalam sambutan saat menerima Gelar Adat Kedatuan Luwu, di Langkane
(Istana) Datu Luwu, di Desa Amassangeng, Kecamatan Wara, Kota Palopo,
Sulsel, Jumat (21/2) siang.
Kekerasan yang dimaksud Presiden SBY adalah kerusuhan yang melanda Kota
Palopo pada akhir Maret 2013 lalu. Kerusuhan disulut oleh sengketa hasil
pilkada setempat.
Presiden SBY dan Ibu Ani mendapat gelar adat Kedatuan Luwu dari Datu
Luwu ke-40, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau. Prosesi pemberian gelar
diawali dengan Ripaduppai Lellung, SBY dan Ibu Ani berjalan diantara
payung bertiang enam. Dilanjutkan dengan Ripasitangkereng Lawoloe,
dimana Sanro Padduppa (dukun penjemput) berdialog dengan Sanro Pallawolo
(dukun pemimpin acara) dalam bahasa
Bissu, menjelaskan maksud
kedatangan tamu kehormatan. Kemudian, SBY dan Ibu Ani diarahkan untuk
duduk di Lamming Pulaweng, semacam singgasana utama.
Songkok Emas dipakaikan kepada SBY, sebagai simbol pengangkatan dan
penganugerahan gelar Anakaji To Appamaneng ri Luwu, yang artinya
Pangeran Mulia, Sang Pengangkat Harkat dan Martabat di Luwu. Sedangkan
Ibu Ani dikenakan Kembang Goyang Emas sebagai simbol dari gelar We Tappa
Cina Warawarae Ri Manjapai atau Puteri yang Berwajah Cina nan Cantik
yang Bersinar Cemerlang dari Majapahit.
SBY mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas
anugerah gelar adat yang diterimanya. "Semoga niat baik dan tujuan mulia
dari komunitas adat Luwu ini mendapatkan balasan dari Tuhan Yang Maha
Kuasa, Allah SWT," ujar SBY.
Kepala Negara menyadari pesan dan harapan atas pemberian gelar adat ini,
yaitu agar dapat mengangkat harkat dan martabat masyarakat Luwu.
"Dengan penuh rasa tanggung jawab sekaligus penuh kehormatan dan
kebanggaan saya dan isteri yang sekarang tengah mengemban tugas negara
akan melaksanakan dengan sepenuh hati harapan komunitas adat dan
sekaligus masyarakat Palopo," SBY menambahkan.
Sebelumnya, Walikota Palopo Judas Amir berharap pemerintah pusat
membantu pembangunan Palopo karena adanya beberapa keterbatasan. Hal ini
langsung direspon Presiden SBY. Pemerintah pusat, ujar SBY, akan
membantu pembangunan daerah sesuai kemampuan anggaran.
"Saya pesan tadi kepada Gubernur, Bupati, dan Walikota, tolong disusun
rencana pembangunan yang lebih efektif dengan prioritas dan agenda serta
mempertimbangkan anggaran yang tersedia," Presiden SBY menjelaskan.
Kedatuan Luwu merupakan salah satu kerajaan terbesar dan tertua di
Sulawesi, bahkan di Indonesia bagian timur. Pemerintahan dimulai kurang
lebih 16 abad yang lalu, yaitu sejak Pajung/Datu Luwu I Batara Guru
hingga ke masa Pajung/Datu Luwu ke-34, Andi Djemma Petta Matinroe ri
Amaradekanna.
0 komentar:
Posting Komentar