Pages

Pages - Menu

Pages

Gambar

Selasa, 10 April 2012

Ibu Ani Hadiri Peluncuran Buku `Adikriya Sulam Indonesia`

Jakarta: Ibu Negara Hj Ani Bambang Yudhoyono, Selasa (10/4) pukul 15.00 WIB, menghadiri acara peluncuran buku Adikriya Sulam Indonesia (Indonesia Hand Embroidery Heritage) di Grand Ballroom Hotel Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ibu Ani datang dengan mengenakan kebaya coklat muda dengan beberapa detail sulaman yang dipadu padankan dengan kain berwarna senada.




Peluncuran buku karya Triesna Jero Wacik ini diprakarsai oleh Yayasan Sulam Indonesia (YSI). YSI sendiri didirikan oleh Triesna Jero Wacik pada 10 April 2006. YSI dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sulam Indonesia yang sentranya tersebar di seluruh nusantara. Peluncuran buku ini juga bertepatan dengan hari ulang tahun YSI dan Triesna Jero Wacik yang jatuh pada hari ini.

Dalam sambutannya, Ibu Ani mengatakan bahwa Adikriya Sulam Indonesia akan bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi perajin dan pecinta sulam Indonesia. Presiden SBY, lanjut Ibu Ani, sangat menghargai langkah pelestarian sulam dan atau bordir sebagai bentuk kecintaan terhadap negeri.

"Apa yang sudah diraih oleh batik, wayang, dan keris menjadi bukti nyata keseriusan kita dalam merawat budaya Indonesia," Ibu Ani menambahkan. "Jangan sampai warisan kebudayaan kita hilang begitu saja karena tidak adanya rasa memiliki (sense of belonging) dari kita semua," ujar Ibu Ani.

Oleh karena itu, Ibu Negara sangat mendukung dan menyambut gembira langkah YSI untuk menerbitkan buku ini. "Ini penting sebagai pertinggal untuk negeri kita dan juga sebagai media dokumentasi karya anak bangsa. Dengan banyaknya suku di Indonesia mempertegas kebhinekaan bangsa," kata Ibu Ani.

Usai sambutannya, Ibu Ani langsung menekan tombol sebagai tanda diluncurkannya buku Adikriya Sulam Indonesia. Pada saat penekanan tombol didampingi oleh Menteri ESDM Jero Wacik, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo beserta istri Tati Fauzi Bowo. Kemudian Ibu Ani menerima buku Adikriya Sulam Indonesia dari Ketua Panitia Penyelenggara Triesna Jero Wacik.

Sebelumnya, Menpar dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mengatakan, buku ini sangat penting untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesi. "Dasar dari ekonomi kreatif adalah pengetahuan kreatif dari insan kreatif Indonesia. Basis pengetahuan ini termasuk warisan budaya seperti sulam," Mari menjelaskan.

Menurut Mari ada tiga alasan buku ini sangat berharga sebagai referensi bagi para perajin dan pelaku ekonomi kreatif. Pertama, buku ini melestarikan warisan budaya sulam baik sejarah dan tehniknya. "Warisan budaya merupakan bahan baku utama yang dapat dikembangkan oleh pelaku ekonomi kreatif," kata Mari Pangestu.

Kedua, untuk meningkatkan apresiasi dan pemahaman karya kreatif anak bangsa, dan bahwa basis budaya Indonesia ada di seluruh pelosok tanah air. Ketiga, menunjukkan apresiasi bagi para perajin yang merupakan kekayaan tak terhingga dari ekonomi kreatif.

Buku bilingual (Indonesia-Inggris) ini berukuran 33 x 24 centimeter dengan tebal 325 halaman. Dibuat dalam tiga versi, proses pembuatannya dimulai sejak setahun lalu, dan berisikan sejarah, cerita menarik tentang sulam, juga beragam teknik dan motif sulam yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Dalam buku ini juga diungkapkan bahwa sulam bukan sekadar memberi hiasan pada sebuah bahan, namun juga sebagai cara mengekspresikan seni dari diri pembuatnya, serta menggambarkan perkembangan dunia sulam di seluruh Indonesia.

Turut hadir dalam peluncuran buku ini para pengurus dan anggota Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), diantaranya Okke Hatta Radjasa, Sylvi Agung Laksono, Ratna Djoko Suyanto, Ning Sudi Silalahi, Niniek Dipo Alam. Hadir pula istri mantan Wapres Mufidah Jusuf Kalla, Wiwik Maftuh Basyuni, Ketua Yayasan Batik Murniati Widodo AS, dan istri duta besar negara-negara sahabat. (yun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar